Just Khay
Catatan Harian Khay
-
1 Comment
Hari ini situs Jakarta Studio resmi di launching. Meski launching kali ini tidak dihadiri oleh Hatta Rajasa yang baru terpilih menjadi Ketua Umum PAN secara aklamasi di Batam tadi Malam.
Kehadiran Jakarta Studio dimaksudkan untuk menggantikan posisi situs Khaystudio yang sudah mendapatkan PR3. Mengapa khaystudio harus digantikan? Salah satu alasannya adalah situs tersebut terlalu domain artikel yang ditulis untuk mendukung kontes seo mengembalikan jati diri bangsa dalam setengah tahun terakhir. Sehingga saya menilai kontennya tidak lagi membahas tentang website, namun sudah mengarah keblog pribadi.
Bersamaan dengan launchingnya Jakarta Studio sebuah situs Ayapati yang merupakan sebuah toko Jilbab di tanah abang digarap dibawah bendera Jakarta Studio. Selama ini situs yang dibuat berada dalam bendera Khaystudio. Alhamdulillah bersama dengan situs itu, telah banyak project yang saya kerjakan.
Selamat berkarya, Jakarta Studio.
-
1 Comment
Umumnya, hosting membatasi maksimum 2MB utk import file melalui dashboard wordpress, berikut cara utk mengubah limit ini:
1. Login via FTP ke main root hostingmu (sebelum masuk ke folder public_html) & download file php.ini
2. Buka file tsbt dan Edit di Dreamweaver, cari parameter berikut:
-upload_max_filesize = 2M > Ubah nilainya, misal > 8M
-max_execution_time = 30 > batas waktu toleransi yg diberikan utk execution import file, krna kita menambah import file size limit, maka max executionnya sebaiknya juga disesuaikan, ubah nilainya (recom: 120 utk 8M)
3. Setelah disave, upload file php.ini tersebut ke dalam folder wp-admin
Skrg coba login ke dashboard wp, dan masuk ke menu import, lihat perubahan limitnya.
Smoga Bermanfaat.
-
No Comments
Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari mengingat mati. Dengan mengingat mati kita dapat menyiapkan bekal kita untuk menuju peraduan terakhir. Ingatlah bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Sedangkan tempat abadi kita adalah di alam baka. Mari kita renungkan artikel dibawah ini yang mengupas tentang hikmah kematian atau hikmah mengingat mati. Selamat membaca.
Mati adalah berpisahnya antara ruh dan jasad dari suatu makhluk yang bernyawa. Bagi seorang muslim tidaklah penting membahas masalah kematiannya, tapi yang lebih penting adalah BEKAL APA yang sudah kita persiapkan sesudah kematian. Di hari kiamat nanti, yang akan ditimbang hanya pahala. Apakah kita lebih banyak pahalanya atau dosanya.
Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?
Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57)
Setiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia.Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.
Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.
Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini: Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari.
Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya.
Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!
Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini.
Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti. Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda.
Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan. Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi. Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda.
Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda. Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka. Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi. Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah. Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi? Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting. Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya – yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi. Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.
Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya: Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16) Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.
Thanks buat sahabat Jun Word atas arikel ini. Artikel ini didedikasikan untuk sahabat seiman diseluruh penjuru dunia.
-
No Comments
Saat mencari-cari artikel untuk situs informasi pendidikan ini saya menemukan sebuah artikel yang bagus. Wajah Carut Marut Pendidikan Kita. Begitu judul aslinya. Artikel ini sangat pas dengan tema situs ini yang disamping itu juga ada relevansinya dalam misi Mengembalikan Jati Diri Bangsa yang tengah gencar disuarakan oleh blogger tanah air.
Peningkatan kesejahteraan guru yang hanya janji kosong, pungutan tak perlu kepada orangtua dengan dalih peningkatan fasilitas, harga buku pelajaran yang mahal, ramai-ramai memalsukan ijazah untuk pemenuhan syarat sebagai calon wakil rakyat, dan trend mengobral gelar di berbagai lembaga pendidikan adalah bukti nyata bahwa cita-cita luhur pendidikan semakin menyimpang. Komersialisasi membuat kita tak percaya akan fungsi utama pendidikan sebagai medium antara masyarakat dalam menghadapi era globalisasi. Komersialisasi yang seolah menunjukkan kemajuan sesungguhnya berujung pada kompleksitas sosial dengan meningkatnya jumlah pengangguran.
Menurut data Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta di Kompas, 29 Mei 2004 pada tahun 2002 jumlah penganggur yang terserap lapangan kerja 155.700 orang atau hanya 25,6 persen. Sedangkan jumlah pengangguran terbuka sebanyak 8,1 juta dengan 567.000 orang di antaranya berpendidikan tinggi. Dari data ini terbukti pendidikan kita telah gagal dengan tak berperilaku sebagai pranata sosial. Di tengah krisis nilai yang melanda kehidupan, kita telah mengalami perubahan yang cenderung bertumpu pada kepentingan pragmatisme liberal. Homo economicus sebagai paham humanisme yang mempengaruhi pemegang kebijakan sistem pendidikan bukan pada kompetensi. Kriteria sukses sebuah sekolah sudah sangat jauh berbeda akibat pergeseran nilai-nilai mengenai sukses sebuah sekolah.
Untuk itulah, Eko Prasetyo, seorang pengamat sosial, penulis pelbagai buku, seperti HAM Kejahatan Negara dan Imperialisme Modal dan Membela Agama Tuhan, mencoba memaparkan ketidaktimpangan tersebut ke dalam buku bertajuk Orang Miskin Dilarang Sekolah! Walau judulnya sangat terkesan provokatif buku ini tak lantas lebur ke dalam gagasan abstrak semata mengenai cita-cita pendidikan. Justru dalam buku setebal 255 halaman ini Eko malah lebih menukik dengan bertumpu pada riset dan investigasi yang mendalam.
Aspek penuturannya yang lugas mengakrabkan pembaca seperti mengajak ngobrol sehingga tak lepas juga dari keceriaan dan kesantaian bernada satiris, walau sebenarnya buku ini dimaksudkannya sebagai catatan kaki dari carut marutnya dunia pendidikan kita.
Tengoklah di halaman 79 (Sekolah di Bawah Kuasa Modal). Ia menemukan seorang ‘marketing’ sekolah yang bekerja selama 18 jam persis tenaga salesman dalam ‘memasok’ siswanya. Kegiatannya adalah mengidentifikasi nama-nama SMA di berbagai kabupaten untuk diiming-imingi agar mau sekolah di tempatnya. Bujukan itu dilakukan dengan dua langkah, yaitu mengirimkan surat kemudian didatangi sekolahnya. Dengan menggunakan mobil milik sekolah yang kadang milik rektor atau kepala sekolahnya, dikelilinginya sekolah tertentu untuk diberitahu tentang ‘masa depan’. Lucunya isi surat itu tak sekedar “surat penawaran’ saja, melainkan surat pemberitahuan bahwa seorang siswa di SMA yang dikunjunginya sudah diterima. Dengan memanfaatkan taktik ini secara agresif, siswa lalu diberitahu telah mendapatkan beasiswa separuh sedangkan separuhnya harus dibayar setelah lulus SMA, mirip yang dilakukan penyebar pemberitahuan kepada seseorang ‘telah memenangkan hadiah’, sisanya sebagai pelunasan ‘hak milik hadiah’ bisa dibayar belakangan. Cabang-cabang ini bekerja mirip perusahaan multinasional saja dengan melakukan paket pendidikan bak seorang pengusaha real estate menawarkan produk kepada calon konsumennya.
Selain dilengkapi catatan kaki, dalam setiap babnya Eko tak lantas larut pada peristiwa besar. Ia juga tak melupakan fakta-fakta kecil yang menjadi kewajiban setiap orangtua yang hendak menyekolahkan anaknya. Semisal pengalaman penulis sendiri tatkala mendaftarkan anaknya ke sebuah sekolah. Semula ia diterima dengan santun, tapi begitu menginjak soal biaya sebesar dua juta rupiah sebagai uang pangkal dan iuran bulanan sebesar tiga ratus lima puluh ribu untuk biaya snack dan sesekali wisata di tempat hiburan ia lantas merutuk betapa mahalnya bayaran si kecil agar bisa bernyanyi, berdoa dan mengetahui ejaan. (h.2).
Desain dan illustasi menarik bergaya komikal karya Ahmad Ismail, penghasil komik strip Sukribo di Kompas Minggu dalam buku ini pun berhasil menampilkan kekuatan kritik yang mampu berdiri sendiri. Misalnya illustrasi di halaman 200 di bawah uraian pengalaman Douwes Dekker yang mendirikan sekolah sebagai lembaga dengan kesadaran kritis (bab Sekolah Itu Mustinya Murah!) ada gambar seorang ibu yang mengeluhkan mahalnya biaya sekolah. Kepada guru ia bertanya apa kelebihan yang ditawarkan sekolah ini. Jawabnya, “Putra ibu bisa belajar soal sejarah Douwes Dekker atau Tan Malaka waktu mereka berjuang membuka sekolah murah!”
Pelbagai bahasan yang disusun Eko sangat praktis karena kebanyakan langsung menukik pada studi kasus. Contoh kecilnya perhatian pemerintah pada sekolah kejuruan yang menjadi pemasok tenaga ke sektor industri. (h.173, Sekolah Ke Mana Lulusannya?) Sepintas lalu hal demikian terlihat menguntungkan, padahal jika dicermati berdampak buruk. Harga-harga produk akan naik karena beban investasi pendidikan yang tak kecil dari industriawan. ‘Menyetorkan’ siswa ke lingkungan industri kelak akan menumpulkan siswa pada sebuah proses yang membuat dirinya tak lebih hanyalah mesin kecil dari industri raksasa.
Media juga tak lepas dari perhatian Eko sebagai salah satu ‘penunjang’ terpuruknya citra pendidikan. Dalam uraiannya ia menulis, “Sensasi dan publisitas yang menjadi andalan media telah membuat isu dunia pendidikan menjadi soal yang kerdil. Bisa dipahami bahwa media juga bekerja mengikuti alur industri sehingga berita pendidikan tak tergolong berita yang menarik,” (Sekolah Di Bawah Kuasa Modal, h.97).
Hal demikian senada dengan yang pernah diungkapkan Umberto Eco dalam Travels in Hypereality. Eco mengungkapkan media massa bersifat genealogis karena di dalamnya setiap penemuan membangkitkan reaksi berangkai ke arah penemuan berikutnya yang menghadirkan bahasa yang cenderung seragam. Akibatnya sensasi dan publisitas yang menempati posisi favorit di media (karena telah mengikuti alur industri) entah disengaja atau tidak telah menyempitkan pendidikan ke dalam posisi yang tak menarik.
Setelah membaca buku ini terbetik pertanyaan tanda-tanda apakah yang mampu kita ciptakan lagi jika pendidikan semakin berujung pada komersialisasi? Inikah pertanyaan yang harus dicermati dan perlu direnungkan. Terdapat jelas tanda-tanda bahwa sebuah tindakan yang dengan hormat kita menyebutnya sebagai ‘pikiran’ sudah tak lagi menjadi ukuran kehormatan. Meminjam istilah Ashadi Siregar, hal demikian lebih terlihat pada ‘realitas psikologis’ yang bertumpu pada ekonomi ketimbang ‘realitas sosiologis’. Komersialisasi yang berujung pada kompleksitas mirip yang terjadi di masa jajahan Hindia Belanda dalam ‘Politik Etis’ di mana pendidikan tak dimaksudkan sebagai perhatian lebih baik kepada penduduk pribumi melainkan hanya untuk penduduk Hindia Belanda yang bekerja pada Kerajaan Belanda.
Para pemegang kebijaksanaan yang terbukti tengah terkooptasi sikap-sikap memenangkan diri sendiri semata, seperti dikemukakan Yudi Latif, kandidat doktor Australian National University dalam kolomnya di KoranTEMPO makin membuktikan bahwa kepintaran kini sedang dihinakan oleh sikap-sikap ‘kebangsawanan baru’ berasaskan kroni dan kemewahan.
Source : http://www.resistbook.or.id/index.php?page=resensi&id=62&lang=id
Meski artikel ini ditulis pada tahun 2004, namun carut marut wajah dunia pendidikan kita rasanya tidak mudah untuk diatasi. Semua terpulang dari para pelaku pendidikan itu sendiri. Sedangkan kebijakan pemerintah bisa berjalan dengan baik bila para pelaku pendidikan mampu menerapkan kebijakan tersebut dengan baik dan benar. Semoga dimasa yang akan datang carut marut pendidikan kita bisa segera diatasi. Semua demi sebuah tujuan, Mengembalikan Jati Diri Bangsa
-
No Comments
Kehidupan masyarakat bangsa ini yang tidak merata membuat sebagian masyarakat memilih profesi sebagai pengemis. Terlepas tidaknya mereka dari orang-orang yang mengorganisasi mereka, pekerjaan tersebut tidak akan mereka lakukan andai lapangan pekerjaan tersedia untuk anak bangsa Indonsia.
Kita hanya bias miris melihat pengemis dipinggir jalan yang menengadahkan tangan mereka sambil memelas, berharap kita memberikan sedekah ala kadarnya.
Meski MUI Pusat telah mengharamkan profesi mengemis, namun hal itu bukanlah solusi yang tepat. Ketersediaan lapangan pekerjaan yang mencukupi setidaknya dapat mengembalikan mereka ke habitat yang lebih bermartabat. Manusia yang mempunyai jati diri yang sesungguhnya.
adil atau tidak harus mengacu kepada peraturan yang berlaku…
maaf dalam hal ini sebaiknya kesampingkan moral dan agama….
peraturan dibuat untuk kepentingan bersama dan untuk ketertiban masyarakat….
jika pengemis meresahkan masyarakat,,, saya rasa adil untuk menangkap mereka selama ada dasar hukum yang jelas….
hanya saja pemerintah harus punya moral,,,.. dan memikirkan solusi yang terbaik untuk pengemis tersebut…….sesuai dengan visi pemerintah mengurangi kemiskinan…….Menangkap pengemis jangan dilihat dari adil atau tidak adil. Lebih baik pakai pendekatan hukum.
Masalah ini berkaitan dengan budaya sosial juga. Beberapa pengamatan melihat bahwa pengemis di kota besar ternyata punya penghasilan yang lebih baik dari pegawai negeri rendahan, dan ini lebih berkaitan dengan mental.
Sebaiknya pengemis itu diberantas dengan memaksa mereka bekerja di tempat/proyek tertentu.Saya punya cerita menarik mengenai ini, suatu ketika saya lagi makan di warung. Seorang pengemis datang, dan ditemui oleh ibu pemilik warung. Begini kira-kira percakapannya.
Ibu Warung : bu, tolong saya bersihkan halaman ya, nanti saya kasih 10 ribu….
Ibu Pengemis menjawab ketus dengan muka masam:
“bu saya ini pengemis, bukan pembantu…”Tanpa masuk warung, si ibu pengemis itu langsung pergi dan kelihatannya dia menggerutu….
Saya yang melihatnya, terus terang kaget…bagaimana mungkin, seseorang menolak pekerjaan yang dia bisa lakukan untuk mendapatkan uang lebih….
Kalau sudah berurusan dengan mental seperti ini, kesalahan terbesar kita adalah di bidang pendidikan…
Jadi jawabannya bukan adil atau tidak adil, tapi memang harus dilakukan dan dipaksa kerja…
Terdengarnya kejam ya?Itulah tanggapan saya atas artikel Mengembalikan Jati Diri Bangsa yang ditulis oleh Khai dalam blog kontes seo miliknya.
















